Ahlan wa sahlan

Selamat datang kami ucapkan | Suara Gontor FM | Jaya di udara abadi di hati dari Gontor menyapa Indonesia | [Tanda - tanda hari kiyamat] | [Dunia Lain] | [Tata cara Shalat] peluang usaha

Saturday, April 24, 2010

Sehari di Kediaman Rasulullah

Kasih Sayang Rasulullah Kepada Anak-Anak
Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis peri kemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Allah Ta'ala hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh perasaan yang halus. Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata: "Rasulullah pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemu-dian mengecup dan menciumnya." (HR. Al-Bukhari)


Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin. Asma' binti 'Umeis Radhiallaahu anha -istri Ja'far bin Abi Thalib- menuturkan: "Rasulullah datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja'far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: "Wahai Rasu-lullah, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja'far?" beliau menjawab: "Sudah, dia telah gugur pada hari ini!" Mendengar berita itu kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: "Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja'far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka." (HR. Ibnu Sa'ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ketika air mata Rasulullah menetes menangisi gugurnya para syuhada'
tersebut, Sa'ad bin 'Ubadah Radhiallaahu anhu bertanya: "Wahai Rasulullah,
Anda menangis?" Rasulullah menjawab:
"Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah Ta'ala letakkan di hati
hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah Ta'ala
hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang." (HR. Al-Bukhari)

Ketika air mata Rasulullah menetes disebabkan kematian putra beliau bernama
Ibrahim, Abdurrahman bin 'Auf Radhiallaahu anhu bertanya kepada beliau:
"Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab:
"Wahai Ibnu 'Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan
tetesan air mata. Se-sungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih,
namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta'ala. Sungguh,
kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim." (HR. Al-Bukhari)

Akhlak Rasulullah yang begitu agung memo-tivasi kita untuk meneladaninya
dan menapaki jejak langkah beliau. Pada zaman sekarang ini, curahan kasih
sayang terhadap anak-anak serta menempatkan mereka pada kedudukan yang
semestinya sangat langka kita temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin
keluarga esok hari, mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya
fajar yang dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran
serta sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap
para bocah dan anak-anak. Sementara Rasulullah , kunci pembuka hati itu ada
di tangan dan lisan beliau.

Cobalah lihat, Rasulullah senantiasa membuat anak-anak senang kepada
beliau, mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah
mengherankan, karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi.

Setiap kali Anas bin Malik melewati sekumpulan anak-anak, ia pasti
mengucapkan salam kepada mereka. Beliau berkata: "Demikianlah yang
dilakukan Rasulullah ." (Muttafaq 'alaih)

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun
Rasulullah tidaklah marah, memukul, membentak dan menghardik mereka. Beliau
tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.

Dari 'Aisyah Radhiallaahu anha ia berkata: "Suatu kali pernah dibawa
sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasulullah, lalu beliau mendoakan mereka,
pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing
pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memer-cikkannya pada
pakaian itu tanpa mencucinya." (HR. Al-Bukhari)

Wahai pembaca yang mulia, engkau pasti menge-tahui bahwa duduk di rumah
Rasulullah merupakan sebuah kehormatan. Lalu, tidakkah terlintas di dalam
lubuk hatimu? Bermain dan bercanda ria dengan si kecil, putra-putrimu?
Mendengarkan tawa ria dan celoteh mereka yang lucu dan indah? Ayah dan
ibuku sebagai tebusannya, Rasulullah selaku nabi umat ini, melakukan semua
hal itu.

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu menceritakan: "Rasulullah pernah menjulurkan
lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat
merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang
gembira." (Lihat Silsilah Shahihah no.70)

Anas bin Malik Radhiallaahu anhu menuturkan: "Rasulullah sering bercanda
dengan Zainab, putri Ummu Salamah Radhiallaahu anha, beliau memanggilnya
dengan: "Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali." (Zuwainab artinya:
Zainab kecil) (Lihat Silsilah Hadits Shahih no.2141 dan Shahih Al-Jami' 5-25)

Kasih sayang beliau kepada anak tiada batas, meskipun beliau tengah
mengerjakan ibadah yang sangat agung, yaitu shalat. Beliau pernah
mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasulullah
dari suaminya yang bernama Abul 'Ash bin Ar-Rabi'. Pada saat berdiri,
beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq
'alaih)
Mahmud bin Ar-Rabi' Radhiallaahu anhu mengungkapkan: "Aku masih ingat saat
Rasulullah menyemburkan air dari sebuah ember pada wajahku, air itu diambil
dari sumur yang ada di rumah kami. Ketika itu aku baru berusia lima tahun."
(HR. Muslim)

Rasulullah senantiasa memberikan pengajaran, baik kepada orang dewasa
maupun anak-anak. Abdullah bin Abbas menuturkan: "Suatu hari aku berada di
belakang Nabi , beliau bersabda:
"Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: "Jagalah
(perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah,
pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah
kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada
Allah." (HR. At-Tirmidzi)

Telah kita saksikan bersama keutamaan akhlak dan keluhuran budi pekerti
serta sejarah kehidupan yang agung. Semoga semua itu dapat menghidupkan
hati kita dan dapat kita teladani dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Putra-putri yang menghiasi rumah kita, selalu membutuhkan kasih sayang
seorang ayah serta kelembutan seorang ibu. Membutuhkan belaian yang membuat
hati mereka bahagia. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan pribadi yang luhur
dan akhlak yang lurus. Siap untuk memimpin umat, sebagai buah karya dari
para ibu dan bapak, tentu saja dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta'ala




baca selengkapnya......

Monday, October 26, 2009

Menjadi Pribadi yang Ikhlas

Hati yang bersih akan melahirkan keikhlasan. Satu upaya batin yang hanya dengannya Allah akan menerima sebuah amalan. Hati yang bersihlah yang akan melahirkan pribadi-pribadi yang ikhlas. Pribadi yang hanya mengharapkan ridha Allah sebagai imbalan atas ibadahnya. Namun setiap sesuatu yang bersih bisa jadi ternoda, begitu pun juga hati manusia. Kebersihan atau keikhlasan hati manusia sangat rentan dari noda-noda, yang karenanya akan mengganggu keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah SWT.

Puasa yang oleh Allah dikatagorikan sebagai peringkat ketiga obat penyakit hati setelah sholat dan zakat, adalah obat yang ampuh dalam memerangi kotoran-kotoran hati. Ibarat kolam, puasa merupakan tempat untuk membersihkan diri dari daki-daki yang melekat dalam hati manusia, yang akan mengganggu kebersihan hati tadi.

Kalau sebuah amalan ternodai keikhlasannya, maka amalan tersebut tidak diterima. Demikian pendapat ulama yang mengatakan bahwa syarat diterimanya sebuah amal ibadah adalah bila amal itu dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah semata, dan yang kedua adalah amalan itu dilakukan berdasarkan syariat yang telah ditentukan Allah atau pun sunnah dari Rasulullah Muhammad SAW.

Karena pada dasarnya keduanya merupakan hal yang saling berkaitan erat. Ikhlas merupakan amalan batin ,sementara syariat atau sunnah Rasulullah adalah amalan zahir.

Sebagaimana sabda Rasulullah:
Allah tidak menerima amal, kecuali amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Dia semata-mata dan dimaksudkan untuk mencari keridhaan-Nya (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits Rasulullah diatas, memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa ikhlas merupakan faktor penentu dalam setiap amalan. Agar segala perbuatan yang dilakukan diterima oleh Allah. Ketika kita berniat untuk melakukan sebuah pekerjan, atau sebuah amalan untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT misalnya, dan ternyata ketika melakukannya ada motivasi lain yang membangkitkannya, maka apa yang kita lakukan sebenarnya tidak lagi dalam konteks ikhlas.

Misalnya saja ketika melakukan puasa. Yang terlintas di pikiran kita adalah dengan puasa itu kita berharap akan mendapatkan perlindungan dan kekuatan bukan untuk bertaqqarub kepada Allah, maka puasa itu bisa jadi telah tercampur dengan unsur syirik.

Begitupun ketika melakukan sholat ,dan kemudian ternyata apa yang kita lakukan sesungguhnya karena keinginan mendapatkan pujian dari orang-orang yang melihat sholat kita, atau keinginan untuk dikatakan sebagai orang yang paling khusuk, maka ibadah kita telah tercemar dengan kotoran-kotaran hati yang sangat berbahaya,

Allah befirman:
" ... Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud untuk riya' dengan sholat di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (Qs.An Nisaa':142)

Kecuali bila ketika kita melakukan ibadah puasa untuk bertaqarrub kepada Allah. Dan ternyata dengan puasa itu didapatkan perlindungan atau kekuatan, atau kesehatan yang semakin prima, bahkan kemudian dengan kesehatan yang prima itu kemudian bisa menambah kualitas dan kuantitas ibadah yang lain, maka insya Allah pahala yang didapat akan menjadi semakin berlipat.

Begitu mudahnya keikhlasan mengalami kontaminasi dengan penyakit yang lain, maka betul-betul dibutuhkan tajarrud (kesungguhan) dari pribadi-pribadi muslim untuk senantiasa mengevaluasi amalan-amalan yang akan, sedang dan telah dilakukannya, agar ujub atau riya' atau penyakit hati yang lainnya tidak merusak nilai-nilai amalan kita di hadapan Allah.

Ibnu Sa'ad menyebutkan dalam kitab Thabaqaat dari Umar Ibn Abdul Azis, bahwa bila beliau berkutbah di atas mimbar dan kemudian tiba-tiba terlintas dalam pikirannya keinginan untuk mendapat pujian dari orang lain atas kepandaiannya berbicara, maka beliau segera menghentikan pidatonya. Begitupun ketika beliau sedang menulis kitab dan takut akan rasa ujub terhadap dirinya sendiri, maka beliau segera merobeknya dan berkata, "Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejelekkan diriku sendiri."

Demikian berhati-hatinya ulama semacam Ibnu Sa'ad menjaga keikhlasan hatinya, pantas menjadi tauladan bagi setiap muslim yang berkeinginan menjadi seorang mukhlisin.Beliau menyadari betul bahwa penyakit hati smeacam riya' dan ujub akan mengotori keihlasan dalam beramal.Sehingga ketika perasaan itu muncul dengan serta merta beliau menghentikannya.

Rasulullah memberikan tauladan kepada kita berlindung kepada Allah atas penyakit hati itu dengan doa sebagai berikut:

"Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu, sesuatu yang kami tidak mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari sesuatu yang kami tidak mengetahuinya."

Do'a ini juga merupakan sebuah upaya agar Allah SWT senantiasa meluruskan niatan kita, dan menjauhkan dari penyakit-penyakit hati yang berupa riya' yang juga dikenal sebagai syirik kecil, juga penyakit hati yang lain semacam ujub, yakni bangga terhadap diri sendiri.

Sabda Rasulullah:
Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik yang kecil. Sahabat bertanya: "apakah syirik yang kecil itu ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab: "Riya" (HR. Ahmad).

Jangan sampai kita lengah terhadap adanya penyakit-penyakit hati yang senantiasa berlindung di dalam hati kita, karena adanya penyakit itu bisa menjadikan Allah tidak menerima amalan-amalan yang telah kita lakukan.

Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),seperti orang yang menafkahkan hartanya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian..." (Qs.2:264)

Insya Allah dengan menyadari betapa keikhlasan dalam beramal sangat mempengaruhi diterima tidaknya amalan ibadah kepada Allah. Dan sebaliknya, dengan adanya penyakit hati yang mengiringi setiap amalan akan merusak dan menghilangkan amalan itu sendiri di hadapan Allah, maka akan memberi motivasi kepada kita semuanya, untuk senantiasa berupaya menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mukhlish. Allahu a'lam bishowab.

baca selengkapnya......

Jangan Pernah tinggalkan sholat...!

Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya. Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam.

Maka terdengarlah ucapan dari dalam "Silakan masuk". Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.

"Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut. "Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik.

"Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. Perempuan itu meneruskan, "Dari perzinaan itu saya pun......lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya....... cekik lehernya sampai......tewas", ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik "Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !..." teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik. Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya.

Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat .

Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. "Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?"

"Ada!" jawab Jibril dengan tegas.
"Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran.

"Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina" Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak
wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya.

Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang
yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

Peringatan untuk seluruh umat yang sering kali melakukan perjalanan, misalnya apabila kita pulang dari kantor sudah menjelang aktu Maghrib, tapi seringkali kita merasa malas untuk menunggu, dan saat dalam perjalanan pulang adzan maghrib berkumandang kita masih didalam kendaraan, sampai dirumah sudah hampir waktu Isya. Apabila di jalan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan dan kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dalam keadaan meninggalkan sholat Maghrib, Naudzubillah. Hal ini juga menjadi perhatian buat kaum Wanita.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut ...

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita
semua," desah hati semua sahabat kalaitu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya didunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

" Bolehkah saya masuk ? " tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.

Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu."Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Kirimkan kepada temen-temen muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

baca selengkapnya......

Thursday, July 2, 2009

Menjadi bidadari di dunia dan akherat

Pernahkah terlintas dalam hatimu ya ukhti, saudariku muslimah untuk menjadi bidadari di dunia dan diakhirat nanti?. Pernahkah kau membayangkan betapa cantik dan anggunnya ia, menjadi incaran dan simpanan hamba-hamba Allah yang shalih dan bertakwa. Pernahkah engkau mengangankannya? Pernahkah engkau mengimpikannya? Tidakkah hatimu tergerak untuk segera meraihnya? Sesungguhnya bidadari dunia adalah ia para wanita yang shalihah, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya semata, hatinya selalu takut dan terikat dengan rabb-Nya, mentaati-Nya dalam keadaan sendirian ataupun dihadapan banyak manusia. Sosok yang merindukan keridhaan Allah dan rasul-Nya[...]

Selalu terbayang dalam pelupuk matanya surga yang dijanjikan Allah menantinya dari pintu manapun ia suka, ia bisa memasukinya. Hatinya selalu menimbang dengan timbangan akhirat sehingga segala urusan dunia yang bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya akan mudah ia singkirkan dan tinggalkan.

Duhai betapa elok dan indah akhlaknya, bila ia belum bersuami maka berbakti kepada kedua orangtuanyalah ladang amalnya memanfaatkan kesempatan yang berharga ini dengan berusaha mendapatkan keridhaan dari keduanya.Bila ia telah bersuami maka bersemangatlah hatinya untuk berbakti kepada suaminya, menemani sang suami dalam keadaan suka dan duka,mendidik anak-anaknya agar mereka berjalan diatas sunnah dan manhaj yang benar yaitu manhaj salafuna shalih. Berani meluruskan suami apabila ia bersalah dengan bahasa yang lembut dan bersabar atas kekurangannya. Membantu suami dalam mentaati Rabb-Nya, sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan hamba-hamba-Nya.Jika engkau bersabar dan istiqamah maka insya Allah engkau akan menjadi penghuni surga yang cantik jelita itu.

Janganlah engkau resah dan gundah, merasa kecewa hatimu karena melihat sulitnya jalan untuk meraih kesana. Jalan itu akan mudah engkau tuju apabila engkau memohon pertolongan-Nya dalam setiap desah nafasmu. Sehingga segala tindak tandukmu selalu dalam bimbingan-Nya.Dan, renungkanlah apabila engkau berhasil mencapai predikat wanita shalihah (bidadari dunia) semua adalah karena dari Rabbmu semata, bersyukurlah atas nikmat ini dan janganlah sekali-kali engkau takabur. Ingatlah selalu firman-Nya :

”Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah” (huud:88).

Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi kita semua wanita-wanita muslimah diatas muka bumi ini yang bercita-cita ingin menjadi bidadari-bidadari diatas dunia ini dan tentu saja diakhirat nanti, Insya Allah.
[red]

baca selengkapnya......

CINTA Apabila Fitrah Menjadi Fitnah

Remaja tidak seharusnya mengeluh dan berkata, “cinta apa namanya jika tidak dating, perbualan telefon secara maraton, sentuhan tangan, kerlingan dan senyuman?”
Remaja dan cinta- 2 perkara yang bagaikan sudah sebati. Kisah suka-duka cinta remaja sering menjadi ilham para penyair, lirik dan komposer, dan bait-bait puisi para penyair. Habis segala ciptaan Tuhan dijadikan lakaran metafora dan analogy percintaan. Embun, pelangi, salju, bulan dan bintang semuanya dijadikan lambang bagi memuja kekasih. Perubahan biologi dan psikologi remaja menyebabkan mereka menjadi peneroka cinta yang serba baru. Kekadang rasa cinta berputik lewat perkenalan dengan rakan sekelas, teman sepejabat[...]atau cinta pandang pertama sewaktu sama-sama menunggu bas ketika hujan renyai-renyai. .aduss romatiknya!~

Apabila disebut cinta terbayang Romeo yang sanggup mati kerana Juliet, Cleopatra yang sanggup membunuh diri kerana Mark Anthony, Uda yang bersanding dengan Dara di pusara atau Qais yang sanggup menjadi majnun kerana terpisah dengan Laila. Itulah deretan kisah cinta rekaan, namun realitinya juga tidak kurang hebatnya. Ramai remaja yang sanggup meninggalkan ibu dan ayah kerana mengikut kekasih hati. Malah ada yang sanggup menukar agama untuk mendapatkan cinta. Ah, manusia tanpa cinta agaknya seperti bumi tanpa mentari…begitulah agaknya..


CINTA FITRAH SEMULA JADI

Rasa cinta bertandang di dalam jiwa tanpa diundang. Keinginan itu tidak payah dipelajari atau dicari. Lelaki inginkan cinta wanita dan begitulah sebaliknya. Walaupun kadangkala ia cuba dilawan, namun rasa yang ‘ajaib’ itu datang juga. Tidak kuasa untuk menolaknya , apalagi kalau cinta disuburkan, maka makin marak dan menggila jadinya. Apabila cinta mencengkam diri, makan tak kenyang, tido pon tak lena dibuatnya. Seindah dan sedamai syurga, namun Nabi Adam inginkan teman. Lalu Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya. Dan kita adalah anak cucu pewaris rasa cinta itu akan sentiasa rasa terpisah dan gelisah selagi tidak bersama dengan yang dicinta.

Lalu hati remaja selalu berkata, apakah salah kami bercinta? Ya, rasa cinta memang tidak salah. Ia adalah fitrah semula jadi yang Allah kurniakan kepada setiap manusia. Ingin cinta dan dicintai adalah instinc. Jiwa manusia memerlukan cinta seperti jasad memerlukan makanan. Oleh kerana cinta itu fitrah, maka tentulah tidak salah untuk merasainya. Namun Allah tidaklah kurniakan rasa cinta secara polos begitu sahaja. Dia juga mencipta peraturan cinta demi menjaga kemuliaannya. Peraturan inilah yang kerap dilanggar oleh remaja. Rasa cinta tidak salah tetapi kesalahan selalu berlaku sewaktu menjalinkan hubungan cinta. Disinilah selalunya remaja terjebak.

Cinta terlarang adalah cinta yang menafikan peraturan Tuhan. Ketika itu fitrah telah menjadi fitnah. Apabila kehendak semula jadi tidak disalurkan atau diisi mengikut peraturan maka akan berlakulah kekalutan dan kemusnahan.


CINTA YANG MEMBAKAR DIRI

Mengapa perlu ada peraturan cinta? Jawabnya, kerana Allah mencintai manusia. Allah inginkan keselamatan dan kesejahteraan buat manusia melaksanakan keinginan fitrah semula jadinya. Keinginan tanpa peraturan akan menyebabkan banyak kemusnahan. Begitulah hubungan cinta yang terlarang, akan membawa banyak implikasi negatif dalam kehidupan. Pengalaman sudah pun mengajar kita bahawa jangan sekali-kali bermain api cinta, nanti terbakar diri. Sudah banyak tragedy yang berlaku akibat hubungan cinta yang membelakangkan Tuhan. Cinta yang terlarang adalah cinta yang sudah dicemari dengan kehendak nafsu dan kepentingan diri. Keindahan cinta yang sudah tercemar ini tidak bertahan lama. Sudah dapat apa yang dihajati, sudah terlaksana apa yang dikejar, cinta akan terkulai dan sepaii….

Hubungan cinta jangan dicemari oleh tindakan yang melanggar syariat. Lebih banyak perlanggaran hukum berlaku, lebih tinggilah risiko kemusnahan yang akan berlaku.. Jangan kita tertipu dengan pesona cinta yang dihiasi pelbagai janji dan sumpah setia. Jangan kita mabuk dengan rindu dan asyik yang membuai dan melenakan. Seteguk kita minum dari kendi cinta terlarang, racunnya akan meresap membunuh akal, jiwa dan perasaan. Pada ketika itu cinta dikatakan buta. Maka butalah mata hati dan mata kepala hingga seseorang akan menjadi hamba kepada siapa yang dicintanya. Lupalah diri kepada Pencipta cinta kerana terlalu asyik dengan cinta yang dikurniakan- Nya.

Ah..bagaimanakah perasaan kita agaknya, jika seseorang begitu leka dengan hadiah hingga terlupe bersalam dan berterima kasih dengan pemberinya?

MENGAWAL DIRI DARIPADA CINTA TERLARANG

Tuhan kerap terpinggir dalam hubungan cinta terlarang. Hukumnya dilanggar bukan dengan rasa bersalah tetapi dengan rasa manis dan megah. Tangan kekasih dipegang walaupun sudah jelas Allah mengharamkan sentuhan antara lelaki dan wanita yang bukan muhrim. Tergamak berdua-duaan di tempat sunyi walaupun sudah diperingatkan Nabi bahawa dalam keadaan begitu syaitan adalah ‘orang’ yang ketiga. Lebih daripada itu pun banyak berlaku. Semuanya seolah-olah halal kerana cinta. Racun-racun berbisa yang memusnahkan cinta dianggap sebagai baja. Akhirnya pohon cinta terlarang pun berbuah. Buah yang pahit, masam dan memabukkan. Buah yang muncul dengan pelbagai jenama yang aneh dan menjelekkan – bohsia, bohjan, buang bayi dan zina..Ketika itu indahkah cinta?
Peraturan cinta bagai tanda-tanda dan lampu isyarat di atas jalan raya. Kereta diciptakan dengan kuasa untuk bergerak, tetapi pergerakkannya perlu diatur dan dikawal. Jika tidak, dengan kuasa itu akan berlakulah perlanggaran dan pertembungan. Begitulah cinta, ia adalah kuasa tetapi memerlukan peraturan dan kawalan….Apakah peraturan-peraturan dalam hubungan cinta? Hendaklah cinta kita itu didasarkan kepada Allah. Ertinya cinta yang kita berikan kepadanya semata-mata kerana mengharapkan keredhaan Allah swt. Allah memberikan kita fitrah itu, lalu kita niatkan dengan fitrah itu boleh menghampirkan diri kepada-Nya. Cintailah sesiapapun tetapi pastikan cinta itu dapat memudahkan kita mencintai Allah.. Sehubungan dengan itu, cinta antara lelaki dan perempuan mestilah diniatkan untuk Allah..soalnya bagaimana? Iringilah niat untuk berkahwin kerana berkahwin itu lebih memudahkan seorang lelaki atau perempuan menyempurnakan agamanya..Sabda Rasulullah saw :


“Apabila seseorang itu berkahwin, sempurnalah separuh agamanya, tinggal lagi separuh untuk disempurnakannya”


PERATURAN CINTA
Oleh itu usahlah bercinta seqadar untuk bersuka-suka. Lebih buruk lagi janganlah ada niat jahat dalam bercinta sama ada didorong oleh hasutan nafsu atau bujukan syaitan. Jika tidak ada niat untuk berkahwin, cinta itu pastinya bukan kerana Allah. Hakikatnya cinta itu adalah cinta terlarang yang akan membawa kemusnahan pada sebelah pihak atau kedua-dua pihak sekali. Cinta jenis ini seburuk namanya –Cinta Monyet!~

Selain itu hendaklah dipastikan semasa menjalinkan hubungan cinta tiada hukum Allah yang dilanggar. Antaranya tiada pergaulan bebas, tiada berdua-duan, tiada pendedahan aurat, tidak ada pengabaian perkara-perkara asas seperti meninggalkan solat, puasa dan lain-lain. Hubungan cinta juga jangan sampai terjerumus dalam perkara yang melalaikan dan merugikan. Remaja tidak seharusnya mengeluh dan berkata, cinta apa namanya jika tidak ada dating, perbualan telepon secara maraton, surat cinta, sentuhan tangan, kerlingan dan senyuman? …Yakinlah tiada keindahan dengan melanggar peraturan Tuhan. Putus cinta, frust cinta yang begitu dominan dalam kehidupan remaja adalah disebabkan racun-racun cinta yang disangka baja ini. Justeru banyaklah cinta yang gagal disambung di alam perkahwinan dan lebih banyak putus tanpa sempat menempuh perkahwinan.


Dan ..last sekali………..

Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyayang. Segala peraturan-Nya dibuat dengan rasa cinta terhadap hamba-hamba- Nya. Cinta suci pasti akan membawa ke gerbang perkahwinan sehingga pasangan itu bercinta dengan 1000 keindahannya. Bahkan jika ditakdirkan cinta itu akan terus bersambung ke alam akhirat…insyaAllah. .=) Suami yang soleh dan isteri yang solehah akan bercinta lagi di syurga, tempat pertama yang melahirkan cinta! Ketika itulah fitrah menjadi anugerah…
[red]

baca selengkapnya......
Shalahuddin Al-Ayyubi
..............Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub dilahirkan di Takrit Irak pada tahun 532 Hijrah /1138 Masehi dan wafat pada tahun 589 H/1193 M di Damsyik. Beliau adalah pengasas Daulah Al-Ayyubiyah dan bergelar Sultan Shalahuddin. Seorang pahlawan Islam yang paling gagah berani dalam perang Salib dan berhasil merebut kembali Baitul Maqdis dari tangan kaum Salib Kristian. download file

 

Studio | Kirim Pesan | Pasang Iklan | Renungan Cinta | Cari siapa? | CEO Suargo

radio-ku mail : suargofm@yahoo.com | Design by Permata-art | Publisher : *2009 Gontor Procuction